Judul:
Holier Than Thou
Penulis: Keadi Lanse
Jahterra
Status: Buku pertama
sudah dicetak oleh Penerbit Marchen (indie
publishing)
Bahasa: Indonesia
Genre: Politic
romance (latar lokal)
Terbit: 2025
Disclaimer: This is not
exactly a proper review. It’s more like, my two-cents about HTT and the politic
lore in that universe.
Pas
tahu cerita Holier Than Thou ini, gue
lihat serialnya udah ada 3 buku di Wattpad, dengan tokoh-tokoh utama yang
berbeda di tiap cerita. Gue pertama coba baca Additional Fee (buku kedua) beberapa chapter, dan gue suka tokoh
Kale-Kanaya. Tapi karena lihat HTT mau terbit, gue nungguin versi cetaknya AF
aja, karena gue pikir ceritanya akan lebih rapi di versi cetak.
Akhirnya
gue justru baca Bend Over Backwards
(buku ketiganya) yang saat itu lagi on-going
di Wattpad, dan gue suka sama Maja-Alex. Plot romantic development mereka bisa gue ikuti walau belum baca HTT dan
AF. Dan untuk sisi politiknya juga menarik, jelas arahnya ke mana, gue masih
bisa ngikutin. Tapi gue ngerasa ada underlying
politic subplot yang kayaknya baru akan gue pahami kalau gue udah baca
buku-buku sebelumnya. Plus, di BOB ada banyak tokoh yang bikin gue lost ini siapa-siapa aja, dan kayaknya
mereka punya peran di cerita-cerita sebelumnya yang nggak gue ketahui.
Jadilah
gue beli HTT versi cetak. Apa yang bikin gue tertarik ke HTT bukan romansanya,
karena gue nggak suka tokoh utama cowoknya sampai akhir cerita (walau dia ada character development yang tetap sesuai
sama penokohannya). Sulit untuk percaya ucapan cinta dari orang yang nggak bisa
gue respect, meski itu tokoh fiktif
LOL. But the politic lore in the universe
is a solid 10/10, dan ini yang menurut gue seru banget, karena expand sampai ke buku-buku selanjutnya.
Pas
baca BOB dan HTT itu gue ngerasa kayak masuk kapsul waktu gejolak politik
Indonesia beberapa tahun yang lalu, atau yang lagi recently happening. Gue kayak, “Anjir, iya, rakyat Indonesia
ngalamin ini beberapa tahun belakangan. Iya kita melewatinya, tapi jadi
menghadapi situasi yang lebih buruk bertubi-tubi.”
Tokoh
utama wanita di cerita ini adalah Avalei, putri presiden yang dinikahkan dengan
Jemima (tokoh utama pria), cucu dari keluarga Sastranegara, keluarga
konglomerat besar. Pernikahan ini tercipta karena Sastranegara mau jadi
perusahaan pengembang untuk proyek KIN (Kota Istimewa Nusantara), yang
merupakan proyek pembangunan Ibu Kota baru di Indonesia, yang niatnya untuk
mengalihkan pusat pemerintahan di Jakarta pindah ke KIN, sedangkan Jakarta akan
jadi kayak New York yang merupakan pusat ekonomi negara, dengan demikian kepadatan
penduduk Jakarta akan terurai.
Which, sounds good on paper. Namun dalam prosesnya,
pembangunan KIN ini menuai perlawanan dari masyarakat sekitar hutan adat, dan wilayah
adat tergusur secara paksa. Jadilah ada demonstrasi di Jakarta yang memprotes
adanya RUU KIN.
Sounds familiar?
Itulah
kenapa gue bilang baca HTT dan buku-buku selanjutnya berasa kayak masuk kapsul
waktu masalah politik Indonesia.
Selain
masalah KIN, pernikahan Avalei dan Jemima itu digunakan Jemima supaya
mertuanya, sang presiden, Jayasena Ranju, cepat mengesahkan RUU MINERALBA yang akan
memudahkan Sastranegara untuk bangun smelter
nikel di Morowali. Karena Jayasena punya proyek untuk bikin Indonesia jadi jadi
sentral industri baterai mobil listrik.
Again, sounds familiar? Yeah
we’re not done yet.
Banyak
massa yang melakukan demonstrasi melawan disahkannya RUU KIN, karena dapat menyebabkan
hilangnya lahan adat yang digusur, bisa bikin masyarakat kehilangan tempat
tinggal, serta pembangunan KIN yang dalam prosesnya lebih banyak kerugian
karena APBN dikerahkan ke situ, di saat ada banyak bidang yang lebih butuh
kucuran APBN yang lebih besar (seperti pendidikan dan nakes). Plus, wilayah KIN
juga akan dibangun di atas lahan gambut yang tanahnya kurang kokoh untuk
menahan kehidupan manusia di atasnya.
Nah,
ketika rakyat lagi sibuk dengan masalah RUU KIN, Presiden Jayasena dan kroninya
berniat untuk membuat perhatian publik fokus ke situ, tapi nanti diem-diem mau
mensahkan RUU yang lain, yakni RUU MINERALBA. Karena sebenernya, agenda untuk
mensahkan RUU KIN itu barengan sama RUU MINERALBA (di tanggal yang sama). Tapi
RUU MINERALBA ini belum ramai dibahas publik. Yang bahas dan protes baru dari
aktivis lingkungan dan akademisi, udah mereka bahas dari pemilu.
Puncaknya
adalah aksi massa besar di Jakarta yang demonstrannya merupakan Aliansi Mahasiswa
Seluruh Indonesia. Mereka menuntut dua hal: Menolak RUU KIN dan RUU MINERALBA
yang mengancam kelestarian lingkungan.
Pada demonstrasi itu, ada kericuhan yang sebenarnya dilakukan sama orang yang bukan demonstran. Tapi kericuhan ini membuat sejumlah orang luka-luka, juga ada yang meninggal. Dan bukannya acknowledging the harm it caused, Presiden justru mengatakan bahwa demonstrasinya itu anarkis dan Presiden Jayasena mengecam orang-orang yang ingin ‘menghancurkan negara’.
I’m actually sick in the
stomach writing that.
Oh,
terus hubungan ini semua sama lukisan Haveen Cato yang disebut di blurb cerita?
Pencucian
uang bisa dilakukan salah satunya lewat lukisan. Siapa itu Haveen Cato yang
misterius, gimana skemanya sampai ada lukisan palsu, dan bagaimana Avalei dan
Jemima bisa terlibat dalam hal itu, semua diceritakan dalam buku HTT.
Jadi
plot yang berjalan di HTT itu banyak dan mendebarkan. Makanya gue ngerasa wajar
bukunya sampai hampir 600-an halaman. Semua aspek di cerita ini memuaskan
(kecuali tokoh utama cowoknya, walau eksekusi development tokoh dia tetap ada dan dibangun sesuai karakternya
Jemima. But I personally just doesn’t
like him). Bagian lain kayak nama-nama tokoh yang mirip-mirip dan banyak,
nama tokoh utama yang awalnya bikin gue kebolak-balik siapa yang tokoh cowok
dan tokoh cewek (Avalei itu female lead,
tapi di bukunya disebut ‘Vale’ terus, jadi gue suka nge-lag pas baca karena tahunya nama Vale itu nama cowok. Sedangkan
Jemima itu male lead, dan ini awalnya
membingungkan karena gue punya temen cewek namanya Yemima, jadi suka nge-lag pas baca nama Jemima di buku, harus
selalu mengingatkan diri bahwa Jemima nama tokoh cowoknya), itu semua adalah
hal yang bisa gue kesampingkan. Kayaknya yang bener-bener nggak gue suka di
buku ini cuma Jemima-nya aja HAHAHA.
Jadi,
gue kasih rating buku ini 4,7/5. Semua aspek bagus, gue suka semuanya kecuali
Jemima (ini personal, tidak objektif).
Gue
merekomendasikan ini kepada pembaca yang mau baca buku fiksi politic romance lokal yang sisi
politiknya dekat dengan situasi politik yang pernah/sedang Indonesia alami. Gue
seneng karena bukunya nggak meromantisasi jabatan politik, karena baca konflik
politiknya justru bikin gue sick in the
stomache, dan nggak membuat orang-orang dengan jabatan politik ini
digambarkan sebagai sosok yang hebat/wah (FL-ML di buku ini nggak punya jabatan
politik tinggi ya, tapi ML di buku ketiga maju jadi cagub DKI dan streessss
berat (GUE IKUT STRES) atas masalah yang terjadi sejak dia disuruh bapaknya
jadi maju jadi cagub. Intinya teh, f*ck
Jayasena and his oligarchy cronies).
Kalau
gue lihat dari resensi pembaca lain, sebagian pada suka sama sisi romansa di
HTT. Gue pribadi biasa aja, karena gue nggak suka sama ML-nya. Tapi gue tipe
yang bisa mengesampingkan sisi romansa dalam buku selama ada banyak konten lain
yang tetap memikat gue dari awal sampai akhir. Dan di HTT ini banyak yang gue
suka, kayak tokoh Kale-Kanaya, plot juga maju karena Avalei memakai otaknya
dengan baik (tidak seperti suaminya), tokoh-tokoh NPC yang semua gue sukai dari
Nathan, Budiman, Serayu, tokoh-tokoh antagonis yang bikin Hhhhhhh, dan gue pun
suka sama antagonis utama dalam buku HTT (bukan Jayasena, walau dia juga
antagonis), gue juga suka sama eksekusi plotnya.
Tapi
di sisi lain, gue suka sama romansa di buku Kale-Kanaya (Additional Fee) sama
Maja-Alex (Bend Over Backwards), juga suka sama dark romance antara Madea-Hartigan (Access Denied). Kalau lo mau
baca buku di series universe HTT buat romansanya, gue lebih rekomen baca buku Additional Fee, Bend Over Backwards, Access
Denied. Namun untuk gue pribadi, pas gue coba baca Additional Fee di Wattpad, gue ngerasa butuh konteks karena gue
takut nggak tahu konteks penting dari buku HTT yang terjadi, dan gue memang
lebih bisa memetakan ini cerita-ceritanya mau ngarah ke mana setelah gue baca
HTT. Jadi walau gue not really into the
romance in HTT, the plot and the
political aspect of it bikin gue paham konteks dunianya, dan lebih bisa
baca Additional Fee nanti dengan tenang karena nggak merasa missing some context.
But of course, to each of
their own.
Kalau mau langsung baca Additional Fee, Bend Over Backwards, dan Access Denied
tanpa baca HTT, bebas aja.
The Extended Jayasena Politic Lore
Di
HTT, Jayasena Ranju berada dalam masa awal periode kedua jabatannya sebagai
presiden. Sedangkan di Additional Fee,
buku kedua, ceritanya si Kale aslinya adalah keturunan kerajaan Kertaradjaja.
Ada
wilayah di Kertaradjaja yang miskin banget, jadi untuk makan aja susah. Makanya
warganya mudah untuk kasih suara ke Jayasena pas Pemilu, karena Jayasena
tinggal kasih sembako atau bantuan ke warga miskin itu. Sehingga wilayah Kertaradjaja
di sini dijadikan ‘lumbung suara’ tiap Jayasena mau nyalon.
Sedangkan
di Bend Over Backwards, Jayasena
menguatkan posisi dengan mencalonkan Maja (male
lead BOB), putranya, untuk maju jadi Calon Gubernur DKI Jakarta. Padahal
Maja gaada pengalaman politik sama sekali. Maja itu pengusaha bidang perikanan
yang kerja sama nelayan lokal. Untuk menguatkan elektabilitas Maja, Jayasena
bikin koalisi partai-partai besar untuk ikut mendukung Maja sebagai cagub DKI.
Dan untuk menambah elektabilitas Maja biar makin afdol, dia jodohin Maja sama
Alex, seorang penyanyi yang populer banget dan dicintai masyarakat, sekaligus
keturunan keluarga Tanjung, keluarga konglomerat yang lagi bikin proyek
pembangunan properti yang berpotensi menggusur desa para nelayan.
Selanjutnya
di Access Denied, di akhir periodenya
Jayasena, terbentuk badan bernama Biro Stabilitas Politik yang dipimpin oleh
Menteri Pertahanan, Prajawira. Fungsi biro ini sesuai dengan namanya, yakni
demi stabilitas politik negara. Tapi di baliknya, pengamanan yang dilakukan
justru termasuk nyulik orang yang dianggap mengancam keamanan negara. Hartigan
(male lead Access Denied) adalah kepala keluarga Notonegoro, keluarga
bangsawan kerajaan Kertaradjaja yang merupakan second in line to the throne after the royalty, jadi kalau seluruh
anggota keluarga royalty Kertaradjaja
mati semua, Notonegoro bakal jadi the
next in line untuk takhtanya. Tapi di awal cerita Access Denied, Notonegoro ini disebutkan sebagai keluarga bangsawan
yang jatuh, fallen noble yang udah
dihancurkan reputasinya. Gimana Notonegoro bisa jadi fallen noble ini ada di cerita Additional
Fee.
Setelah
kematian ayahnya, Hartigan di cerita Access
Denied kerja di Biro Stabilitas Politik, di bawah Prajawira. So yeah, dia ikut nyulik-nyulik orang.
Karena nama keluarganya jatuh, dia butuh segala macam resources untuk bisa balik ke posisi semula. Makanya dia bersedia
kerja untuk Biro Stabilitas Politik. Dan ketika ada tawaran dari Jemima untuk
dapat saham besar pertambahan keluarga Sastranegara, asalkan Hartigan mau
menikahi Madea Suri Sastranegara (kakaknya Jemima), Hartigan pun bersedia.
Hartigan dikasih tawaran ini karena Madea itu wanita gila yang, yah… gitu.
Madea bukan cegil yang lucu-lucu centil harmless.
She is very much harmful. Jemima
memberi penawaran ini ke Hartigan karena dia merasa Hartigan bisa bertahan
hidup setelah menikahi Madea Suri.
Yang
gue sebutkan di atas bukan spoiler ya, melainkan premis cerita (BOB dan AD) serta
salah satu latar belakang konflik (AF). Eksekusinya gimana, eskalasi konfliknya
gimana, dinamika romansanya gimana, itu baru akan pembaca tahu pas baca
masing-masing bukunya.
Sebenernya
yang gue notis dari tiap cerita adalah: ini tokoh-tokoh protagonisnya tuh pada
gacor banget, ya ada anak-anak Presiden (yang dalam universe HTT ini, kebetulan
pada punya nurani dan empati), ada putra Presiden yang jadi walikota Jakarta,
ada anak konglomerat, ada keturunan raja yang otaknya encer, ada kelompok
Aliansi Pergerakan, ada banyak banget protagonis yang gacor, tapi buat
deligitimasi kekuasaan si Jayasena ini tuh susahnyaaa minta ampun. Sampai titik
darah penghabisan banget, dan itu pun deligitimasinya sejengkal demi sejengkal.
Pada akhirnya Jayasena pun baru bisa lepas kuasa ya setelah periode dia
berakhir, tapi warisan keputusan politik dia yang luarbiasa buruk berimbasnya
sampai di masa mendatang.
Akhir
kata, may you enjoy HTT and the other books in that
universe. Tapi pesan gue kepada pembaca HTT dan buku-buku selanjutnya:
Kalau lo notis tokoh X, Y, Z kayaknya mirip sama suatu figur publik IRL, simpen
sendiri atau bahas sama temen pembaca kalian aja ya. Jangan disebut-sebut di
kolom komen Jahterra. Sebaiknya nggak bawa-bawa nama figur publik IRL (apalagi
sosok politik) ke akun publik penulis. Pokoknya nggak perlu sebut nama orang
IRL. Simpan buat YTTA.

Komentar
Posting Komentar