Mahesa-Virga dan Kendala yang Sebenarnya Terjadi

 




Mungkin salah satu kendala yang gue alami dalam proses mengembangkan teknik nulis gue adalah perbedaan realitas(?) yang dipikirkan pembaca-pembaca gue saat itu (pembaca yang saat tahun 2015-2020 aktif komen di Wattpad) terhadap karya-karya gue, versus apa yang gue pikirkan terhadap karya-karya gue. Sepanjang gue di Wattpad dan Instagram, selalu ada aja yang bilang ke gue bahwa tulisan gue tuh bagus banget (ini gue cuma menyampaikan opini pribadi mereka ya, bukan berniat narsis). Kemudian pas tahun 2019-2020, gue ngerasa opini pembaca yang bilang bahwa karya-karya gue (semua karya yang ada di Wattpad tahun 2019 ke bawah) itu clash sama opini gue terhadap karya gue sendiri.

Gue sendiri nggak menganggap tuilsan gue pas zaman 2015-2019 itu jelek; gue nggak menganggap tulisan gue untuk Seri Disiden di Wattpad dan Nona Teh dan Tuan Kopi itu jelek. Sekarang pun ketika gue udah kelar ngedit Afirmasi versi cetak dan rewrite Aberasi versi cetak, gue bisa lihat hal-hal apa yang disukai pembaca-pembaca Seri Disiden hingga mereka suka banget sama seri ini. Gue juga bisa lihat kenapa pembaca gue suka sama Nona Teh dan Tuan Kopi, meski itu adalah karya debut gue dengan writing skill yang paling less refined.

Tapi opini gue terkait teknik nulis gue yang itu terbentuk karena gue punya tujuan mau nulis cerita macam apa.

Pernah nggak sih, punya ide untuk suatu karya yang bikin lo mikir, “Anjir tapi ini GIMANA cara bikinnya?” soalnya the idea about that piece of art itu berasa idealis, dan lo sadar bahwa dengan kemampuan yang lo miliki saat itu, lo nggak akan bisa mengeksekusi idenya dengan bagus? Like, you can not do the idea some justice? Itu yang gue rasakan ke Mahesa-Virga. Jadi kalau gue memaksakan diri untuk melanjutkan nulis cerita Mahesa-Virga dengan segala keterbatasan pengetahuan, keterbatasan teknik menulis, dan keterbatasan resource yang gue miliki saat itu, gue tahu bahwa I won’t do their story some justice, jadi buku Mahesa-Virga mungkin akan tetap dibaca audience Seri Disiden karena saat itu hype-nya masih cukup ramai, tapi the story itself won’t have any meaning.

Now, I would like to ask you something. Jika diminta untuk menulis cerita tentang the universe, cerita dengan plot dan tokoh seperti apa yang akan lo tulis?

‘The universe’ is a broad topic. Ini adalah topik besar yang ingin gue angkat dalam cerita Mahesa-Virga, along with the topic of creation and destruction. Gue harus mikir gimana caranya supaya ceritanya nggak terlalu ngawang-ngawang, masih bisa dinikmati audiens awam (nonscifi readers), kontennya tidak sulit untuk ‘dikunyah’, lalu kisahnya dibungkus dan disampaikan dengan asik.

Ceritanya Mahesa-Virga itu mustahil ditulis dengan writing skill gue yang dulu. Karena itulah meski dulu pembaca gue menganggap tulisan gue udah bagus, opini tersebut clash sama opini pribadi gue yang menganggap teknik nulis gue dulu tuh masih kurangggg banget, masih nggak bagus kalau mau nulis cerita Mahesa-Virga.

Jadi, gue berusaha merevolusi cara gue menulis. Cerita Rengat (buku pertama Seri Bisai) adalah percobaan pertamanya. Tapi setelah nulis Rengat, gue sadar bahwa gue harus keluar dari genre utama romance untuk melatih writing skill gue.

Setelah menggodok ide, gue pun memutuskan bahwa buku kedua Seri Bisai, Sarhad, itu genre utamanya bukan romansa. Genre utama Sarhad dan Madar (buku ketiga) itu thriller action dengan tempo cepat. Gue nggak pernah nulis cerita kayak gitu. Nggak pernah nulis cerita bertempo cepat, nggak pernah nulis cerita dengan genre utama thriller action, dan nggak pernah nulis cerita dengan tema kelam kayak di Sarhad-Madar. Jadi gue perlu waktu cukup lama untuk menulisnya, sekitar tiga tahun, dan ada 3 kali drafting. Sarhad-Madar adalah naskah tersulit yang pernah gue tulis seumur hidup (tapi ke depannya pasti ada yang lebih sulit LOL), soalnya ada banyak kebiasaan atau cara menulis yang gue sadari harus dibuang, I have to learn-to-unlearn on how to write a story. Gue nggak terbiasa dengan hal itu, makanya gue merasa kesulitan. Gue terbiasa dengan kemudahan(?) nulis cerita romansa, yang misal gue nulis FL dan ML ketemu terus PDKT dan jadian tanpa kasih kejelasan tujuan hidup atau latar belakang tokoh, ceritanya tetap bisa gue tuntaskan dengan cukup mudah. Sedangkan kalau nulis cerita thriller, gue harus tahu cara bikin konflik berlapis dengan benang merah yang udah ada clue-nya dari awal sampai akhir cerita, jadi tujuan dan latar belakang wajib ada dan nyambung. Cerita romance nggak memerlukan hal-hal itu to be counted as romance. Tapi gue sadar bahwa untuk menulis cerita romansa yang meaningful, yang ada soul-nya, itu juga perlu ada tujuan dan latar belakang dengan benang merah yang udah ada hint-nya dari awal, dan nyambung terus hingga akhir kisah.

FYI gue itu dulu tipe penulis pantser, alias nulis tanpa bikin struktur. Jadi pas nulis bisa aja tiba-tiba kepikiran kasih misteri apalah yang gue nggak tahu eksekusinya bakal gimana. Tapi karena Sarhad-Madar itu gue tulis offline sampai tamat, jadinya gue lebih bisa membiasakan diri untuk menulis dengan struktur, terutama untuk cerita dengan konflik berlapis.

Seri Disiden itu konfliknya nggak berlapis. Biasanya konflik utamanya cuma 1-2 aja, jadi nggak sulit ditulis meski gue penulis pantser. Dan misal gue nulis struktur cerita pun, strukturnya bisa gue bikin cepat. Sarhad-Madar nggak bisa kayak gitu.

Terkait menulis naskah sampai tamat secara offline, sebelum nulis Sarhad-Madar, gue kalau satu chapter udah kelar ditulis, langsung gue unggah ke Wattpad. Tapi karena Sarhad-Madar itu konfliknya berlapis, gue nggak bisa mengunggah chapter dadakan. Gue harus memastikan semua benang merahnya udah jelas dan nyambung dari awal hingga akhir cerita, jadi gue harus tulis dulu naskahnya sampai tamat. Untuk di Wattpad cuma unggah beberapa chapter awal Sarhad.

I feel like I came a long way to this moment. Sosok gue tahun 2021 ke bawah (the younger version of me) nggak akan mampu nulis Sarhad-Madar. Soalnya kemauan menulis dan kemampuan mengeksekusi dengan baik adalah dua hal berbeda. Hanya karena gue mau, belum tentu gue mampu.

Saat ini, cerita Mahesa-Virga juga seperti itu; gue mau menulisnya, tapi belum mampu menulis ceritanya to do the story some justice, belum mampu untuk mengeksekusinya dengan baik. Selain karena teknik menulis, ide cerita Mahesa-Virga sendiri juga belum matang.

Bisa jadi, cerita Mahesa-Virga bakal jadi naskah yang susah gue tulis daripada Sarhad-Madar, dengan proses mematangkan ide yang lebih panjang daripada ide cerita Rendra yang prosesnya memakan waktu enam tahun, itu pun belum rampung naskahnya.

(FYI, cerita Rendra dulu berjudul Cinderendra, sekarang berjudul Tumbuh dalam Runtuh)

Jadi, gue melihat naskah-naskah lain yang gue tulis sebagai satu langkah lebih dekat menuju kematangan ide cerita Mahesa-Virga. Nggak tahu kapan matangnya. Tapi kayaknya bakal cukup lama, lebih lama daripada ceritanya Rendra.

Komentar