MY LIBERATION NOTES
Status:
tamat.
Platform:
Netflix.
Rating
usia: 16+.
Genre:
slice of life, family drama, countryside romance.
Warning:
this review contains some spoilers.
My
Liberation Notes berkisah tentang lika-liku hidup tiga bersaudara dengan orang
asing yang bekerja untuk ayah mereka. Yeom Mijeong si anak bungsu dengan Mr. Gu
sang pria misterius adalah tokoh utamanya, tapi ceritanya juga memberi porsi banyak
untuk Yeom Changhee si anak tengah, dan Yeom Gijeong, si anak tertua, serta
memberi porsi untuk beberapa tokoh sampingan.
Tempo
dramanya lambat, banyak refleksi hidup dari para tokoh entah lewat dialog atau
monolog. Latar waktunya maju-mundur. Dari semua hal di drama ini, hal yang
membuat gue paling terkesan adalah romance antara Mr. Gu dan Mijeong. Jadi
gue fokus bahas poin itu di resensi ini. Spoiler alert: bakal banyak
dialog dalam MLN yang gue unggah di sini.
Yeom
Mijeong bekerja sebagai pekerja korporat di perusahaan desain, dan dia berbakat
dalam hal itu. Tapi, bosnya itu tipe bos tukang kritik yang kalau menilai
desain anak buahnya itu dengan mengeluhkan desain-desain tersebut di bilik
kerja tim mereka, jadi semua orang bisa denger. Desain Mijeong sering dicela
dan dikritik, udah diubah sama Mijeong, tapi pada akhirnya klien dari bos
Mijeong justru maunya sama desain Mijeong yang pertama. Hal seperti itu terjadi
bukan cuma sekali, makanya Mijeong lelah secara mental di kantornya, walau dia berbakat
dalam desain.
Di
tengah itu pun, Mijeong terlilit utang sama bank dan terancam akan dikirim
surat peringatan ke rumahnya atas utang tersebut. Surat peringatan ini
berbahaya bagi Mijeong, karena Mijeong nggak mau keluarganya tahu bahwa dirinya
terlilit utang ke bank. Pasalnya, utang tersebut ada karena mantan pacar
Mijeong meminjam duit menggunakan rekening banknya Mijeong. Mijeong tahu
dirinya bodoh karena membiarkan mantannya itu menggunakan rekeningnya, tapi dia
merasa yang tahu kebodohannya ini cukup dirinya dan mantannya aja, keluarga dan
orang-orang terdekatnya nggak perlu tahu. Soalnya Mijeong merasa dia nggak
punya apa pun selain harga diri. Kalau keluarganya tahu soal utang ini,
otomatis mereka akan tahu soal kebodohan Mijeong di masa lalu, dan itu membuat harga
dirinya terinjak. Tanpa harga diri, dia nggak merasa punya apa-apa, karena dia
tidak sukses, tidak keren, dan nggak merasa dirinya lovable.
Untuk
menghindari surat utang tersebut ketahuan keluarganya, dia pun meminta tolong
kepada Mr. Gu, tetangganya, untuk menerima surat utang itu. Mijeong tahu Mr. Gu
bukan tipe yang suka ikut campur urusan orang, jadi Mijeong merasa aman menitipkan
surat utangnya ke Mr. Gu.
Sedari
awal tahu tentang surat utangnya Mijeong, Mr. Gu bisa menebak bahwa yang berutang
sebegitu banyak pasti bukan Mijeong. Dia sudah hafal jenis kasus seperti ini.
Pasti ada mantan yang manfaatin kenaifan Mijeong untuk pinjem duit, berjanji
bakal balikin, tapi nyatanya malah kabur dan jadi sulit dihubungi. Dengan latar
belakang Mr. Gu (SPOILER: nantinya terkuak bahwa dia adalah gigolo yang naik jabatan
menjadi debt collector), Mr. Gu pun langsung tanya apa Mijeong mau
duitnya cepat balik? Dia tanya siapa mantannya Mijeong yang bikin Mijeong
terlilit utang begini. Dia hanya perlu nama, nanti semuanya beres. Tapi Mijeong
nggak mau memberikan informasi.
Bagi
Mijeong, tindakan Mr. Gu yang langsung mau beresin masalah Mijeong itu terasa
menghina, karena itu secara nggak langsung menyatakan bahwa Mr. Gu nggak percaya
Mijeong mampu menyelesaikan masalahnya sendiri—masalah yang bermula dari kebodohan
Mijeong sendiri pula—dan ketidakpercayaan itu bikin Mijeong merasa bahwa Mr. Gu
memperlakukan dia seperti wanita bodoh yang sudah membiarkan kekasihnya pinjam
duit banyak dari rekeningnya. Makanya tiap Mr. Gu ngomong soal utangnya Mijeong
dan bilang dia bisa beresin masalah itu, Mijeong kelihatan kesal, karena dia
nggak mau masalahnya diberesin orang lain. Dia maunya orang yang dia percaya bisa
senantiasa mendukung dia, selalu didukung hingga Mijeong bisa lebih kuat dan
berani sampai selesai beresin masalahnya sendiri.
Di sisi lain, tentu mudah untuk paham bahwa
niat Mr. Gu mau beresin masalah Mijeong itu karena dia nggak mau Mijeong jadi
capek dan sedih atas masalah yang nggak perlu ada, atas masalah yang Mr. Gu
tahu bisa dia beresin dengan cepat. Dia bisa membantu Mijeong, dia mau
membantu, tapi Mijeong nggak membiarkan Mr. Gu membereskan masalahnya dengan
cara yang Mr. Gu tahu. Alih-alih, Mijeong justru meminta Mr. Gu untuk melakukan
hal yang nggak pernah dilakukannya. Dia meminta Mr. Gu untuk memuja dia.
__________
“Why
do you drink everyday?”
“What
else should I do?”
“Should
I give you something to do? Should I give you something to do other than drink?”
“….”
“Worship
me.”
“….”
“I’ve
never felt whole before. One asshole after another, every guy I’ve ever dated
was an asshole. So worship me and make me feel whole. It’ll be winter soon. Nothing
survives when winter comes. There will be nothing to see sitting there and no
work at the factory. If you drink all day, you’ll only feel like crap. It’ll be
like hell. You have to do something. I want to feel whole for once. So
worship me. Love isn’t enough. Worship me.”
“Go
home. Just go home and sleep.”
“You
have nothing to do anyway.”
“Do
you think I want to do anything?” He asked. “Do you know my name? Do you know
anything about me? Why do you think I’m living quietly in this countryside without
telling anyone my name? I don’t want anything to do with anyone. Not a thing.”
“….”
“You
lent a guy money, didn’t you? Guys can be sly as a fox too. He saw you’re the
kind of woman he could borrow money from, screw over, and get away with it. So
stop avoiding it and deal with the problem at hand.”
“Once
that jerk paid all the money back, will my life be fine? I think it will still
be the same. I’ll still never feel whole, in this crappy life with these crappy
people, acting like they’re so great, and just talking away thoughtlessly. How
they talk…”
“I’m
sorry, I’m an asshole too.”
__________
Sejak
episode satu, gue udah suka sama penggambaran hubungan Mijeong dan Mr. Gu,
soalnya mereka cuma jalan bareng aja tuh gue udah bisa melihat kesamaan
sekaligus kontras kepribadian mereka. Mata mereka saling bertemu aja bisa bikin
gue berdebar. Mijeong dan Mr. Gu memang sama-sama tipe orang pendiam yang
kalem, but they are the shadow of each other; Mijeong nggak berani untuk
lebih frontal menagih utang orang yang menipu dia, sedangkan Mr. Gu lebih
berani untuk frontal menghadapi semua orang.
Mr.
Gu is a lone wolf. Dia memang nggak banyak
bicara, tapi dia transparan untuk Mijeong di saat orang lain nggak bisa menebak
apa yang Mr. Gu pikirkan.
She
found solace in him. Karena Mr. Gu nggak berusaha
untuk membuat Mijeong merasa lebih baik, nggak menasihati, nggak menggurui. He
is simply being himself. Dan karena itulah, di mata Mijeong, Mr. Gu itu transparan.
Mijeong memang nggak merasa perlu dibantu lebih dari apa yang dia minta. Kalau
orang melakukan sesuatu untuk membantu dia, padahal dia nggak meminta hal
tersebut, Mijeong akan merasa dirinya dianggap tidak berdaya oleh orang yang
membantu tanpa bilang itu. Mijeong nggak mau dianggap payah dan terlalu bodoh
untuk bisa menghadapi masalahnya sendiri.
Di
episode 2, setelah permintaan Mijeong ke Mr. Gu untuk memujanya itu ditolak,
Mijeong kan males pulang karena males ketemu Mr. Gu. Jadi dia pulang larut malam,
dan pas jalan ke rumahnya, ada dua cowok yang lihatin Mijeong. Mijeong jalan
lebih berhati-hati, terus ada suara langkah di belakang. Mr. Gu sengaja bikin
botol-botol soju-nya terdengar berdenting, jadi Mijeong langsung tahu
itu dia, dan dua pria predator itu langsung tahu bahwa Mr. Gu punya senjata
buat berantem. Nggak ada dialog di adegan itu. Cara menunjukkan kepribadian Mr.
Gu di situ terasa subtil. Dan sebagian adegan juga punya teknik show-not-tell
yang bagus.
Episode
3, Mijeong mengingat malam saat dia meminta Mr. Gu untuk memujanya, untuk
membuatnya merasa utuh, dan teringat balasan Mr. Gu yang bertanya, “Have you
ever make a man felt whole?”
Jadi
di hari lain ketika sedang istirahat dari mengurus ladang ayahnya, Mijeong
bertanya ke Mr. Gu, “Do you want me to worship you? You seem like you also
never feel whole. Let me know if you want it.”
Kisah
mereka berlanjut ke hari lain ketika Mijeong mau berangkat ke kantor, sempat
berpapasan sama Mr. Gu, dan Mijeong bilang, “Let’s at least say hi to each
other.” Dan Mr. Gu memang awalnya diam aja, dia nggak jawab ya/tidak, tapi
dia nggak mengabaikan Mijeong. Karena Mijeong mulai menganggu pikirannya. Mana
pernah ada wanita yang tiba-tiba datang ke dia dan meminta untuk dipuja? ‘Worship
me. Love is not enough’ itu permintaan yang nggak biasa. Kalau udah nonton
sampai akhir dan tahu masa lalu Mr. Gu, kita tahu bahwa dia sudah bertemu
berbagai macam orang. Tapi nggak ada yang kayak Mijeong. Nggak mungkin Mijeong
nggak mampir dalam pikirannya.
Lalu,
Mr. Gu menanggapi permintaan Mijeong untuk ‘say hi’ dengan mengingatkan
Mijeong bahwa bus yang harus Mijeong masuki untuk berangkat ke stasiun udah
datang. He can’t say hi because he isn’t the type to say it. Jadi dia menunjukkan
rasa peduli dia dengan cara lain.
MASA
LALU MR. GU
Terlahir
sebagai Gu Ja-gyeong, Mr. Gu dulunya adalah atlet atletik Korea Selatan. Kemudian
dia menjadi gigolo di suatu klub yang dimiliki oleh seseorang yang disebut
‘Chairman’, lalu Mr. Gu diangkat untuk menjadi debt collector utama,
tugasnya menagih uang dari semua klub hiburan milik Chairman.
Saat
dia bekerja untuk Chairman, dia tinggal bersama seorang perempuan yang
merupakan anak dari Chairman. Mr. Gu ditunjuk buat jagain perempuan ini. Si
perempuan ini tuh stres lihat apa yang dikerjakan bapaknya dan para bawahannya,
dan dia suicidal. Mr. Gu merasa frustrasi melihat perempuan ini karena
dia terlihat begitu tersiksa. Saat itu Mr. Gu pernah nonton berita yang soal orang-orang
suicidal yang berhasil bertahan hidup setelah menjatuhkan diri dari
tebing. Semuanya mengatakan hal yang sama, intinya: “Kalau kamu sudah mencapai
2/3 pas turun tebing, apa pun yang bikin kamu mau bunuh diri rasanya kayak
bukan apa-apa.” Dan itu bikin Mr. Gu takjub karena beberapa detik sebelum jatuh
dari tebing, mereka semua pada mau bunuh diri. Lalu beberapa detik setelahnya
mereka sudah berubah pikiran, ke titik mereka menganggap alasan bunuh diri
mereka nggak ada apa-apanya.
Lalu
Mr. Gu cerita soal orang-orang suicidal yang bertahan hidup setelah turun
tebing ini ke perempuan anaknya Chairman. Mr. Gu bilang, “Untuk orang yang
merasa hidup itu sangat menyakitkan, menjalani terapi itu seperti jatuh dari
tebing dan mencapai 2/3 tebing, tanpa berakhir membunuh diri sendiri.” Dan dia
juga bilangin si perempuan untuk mendapatkan terapi.
Pas
ngomong begitu, poin Mr. Gu adalah si perempuan mungkin bisa berubah pikiran
dari mau mati jadi mau terapi. Ternyata enggak. Perempuan ini justru lompat
dari gedung dan mati.
Dan
Mr. Gu merasa bersalah, jadi dia bilang ke Mijeong, “The woman who I used to
live with died. Because of me. I told her to die.”
Di
paruh akhir cerita, setelah timeskip, ada adegan Mr. Gu datengin seorang
cewek buat nagih duit. Itu gue sedih lihatnya. Soalnya Mr. Gu pasti tahu bahwa
hal seperti inilah yang ditakutkan Mijeong: someone called out her stupidity
in public, kebodohan karena udah berutang begitu banyak, dilihatin
orang-orang, dan bikin orang penasaran cewek bodoh macam apa yang membiarkan
pasangannya meminjam uang sampai ceweknya terlilit utang? He must feel like
shit because he does things that she can not bear to look at.
Tapi
pada akhirnya mereka bertemu kembali dan setelah Mr. Gu mengurus beberapa hal,
dia memilih untuk hidup bersama Mijeong. Happy ending walau gue masih
merasa kurang. Apa couple yang chemistry-nya bagus selalu begitu,
ya? Walau udah tahu mereka bersama dan bahagia, rasanya tetep aja mau tahu
gimana kelanjutan kisah mereka, bagaimana mereka menghadapi masalah bersama dan
memilih satu sama lain lagi dan lagi. Kayak GuMijeong couple.
I
love that there’s always a certain intimacy between them.
Bahkan ketika mereka cuma berdua dan lagi clash, atau pas Mr. Gu lagi
menaikkan ‘dinding pertahanan’ dia supaya Mijeong nggak mencari tahu lebih
dalam soal siapa dirinya sebenarnya, selalu ada nuansa bahwa mereka punya
relasi yang intim. Terutama karena banyak adegan diambil di rumah Mr. Gu; his
house was quiet, the light damp when night came, and some rays of sunshine peered
through the window when the day broke. It feels serene and peaceful, but sometimes
there’s some tension when they argue.
Komentar
Posting Komentar