YOU
DESERVE EACH OTHER
Penulis:
Sarah Hogle
Status:
tamat (with happy ending)
Bahasa:
Inggris
Rating
usia: 15+
Genre:
komedi romantis, romansa kontemporer
Sumber:
bisa dibeli di Google Playbook
Berkisah
tentang Naomi dan Nicholas, sepasang tunangan yang akan menikah dalam tiga
bulan, tapi Naomi menyadari bahwa rasa cintanya kepada Nicholas hanya sebesar
40%.
Besar
rasa cinta Naomi bukan 40% sedari awal pacaran. Justru, dulu saat pacaran, saat
cincin pertunangan belum melingkari jari manis, rasa cintanya masih begitu
melimpah untuk Nicholas. Hal yang membuatnya berubah? Nicholas, serta
ekspektasi dari semua orang—termasuk dirinya sendiri—dalam pernikahan ini.
Gue
menganggap cerita romansa itu terbagi jadi dua tipe: dominan masa pre-relationship
dan dominan masa in-relationship. Tipe yang sering gue temui (juga gue
baca dan tulis) adalah tipe pertama, yakni cerita romansa dengan dua tokoh
utama yang sedari awal belum mengaku saling cinta, belum berhubungan sebagai
pasangan secara fungsional, nanti di akhir kisah mereka bakal
jadian/menikah/mengaku saling cinta dan masuk in a romantic relationship.
Jadi kalau ceritanya tentang dua orang yang dijodohkan dari awal padahal tidak
saling cinta, atau cuma satu aja yang cinta (cinta bertepuk sebelah tangan),
maka itu termasuk cerita romansa tipe pertama. Kalau dua tokoh menikah bisnis
dan cuma tertarik ke satu sama lain, nggak pernah mengakui saling suka dan
menjalin hubungan sebagai pasangan in a romantic relationship, itu juga
termasuk cerita romansa tipe pertama.
Cerita
romansa tipe kedua itu kedua tokoh utamanya dari awal sudah mengaku saling cinta
dan sedang (atau sudah) in relationship dengan satu sama lain. Intinya,
mereka (pernah) menjalani hubungan dengan satu sama lain karena cinta. Jadi,
cerita yang masuk tipe kedua adalah cerita kayak mantan kekasih yang balikan,
Cinta Lama Bersemi Kembali (tapi bukan cinta bertepuk sebelah tangan), pasangan
yang udah nikah/pacaran karena cinta terus berkonflik, atau Long Distance
Relationship/Marriage.
You
Deserve Each Other yang ditulis Sarah Hogle adalah cerita romansa tipe kedua. Tahun
lalu, gue nemu tren di suatu akun BookTwitter English yang bahas soal
novel-novel bertema marriage-in-crisis. Dari yang gue tangkap, marriage-in-crisis
adalah tema cerita soal krisis pernikahan, baik itu pascapernikahan (sudah
menikah) maupun prapernikahan (sudah dilamar tapi belum menikah). Dan salah
satu buku bertema marriage-in-crisis yang direkomendasi adalah buku
Sarah Hogle ini.
Cerita
dimulai dari kencan ketiga Naomi dan Nicholas yang memberi kesan positif ke
Naomi. Naomi menyukai Nicholas, cowok ini adalah cowok green flag buat
dia pacarin dan nikahin. Bab selanjutnya bercerita tentang bagaimana hidup mereka
berubah setelah mereka bertunangan dan tinggal bersama. Perubahan besar antara
Naomi dan Nicholas memiliki nama: Deborah Rose.
Deborah
adalah ibu dari Nicholas. Tipe ibu-ibu sosialita di kota kecil yang merasa dia Orang
Penting™ karena sudah membantu masalah hidup warga kota Morris sampai masuk
koran lokal. Dia selalu membicarakan hal itu berkali-kali tiap Naomi bertemu keluarga
Rose. Itu adalah cara Deborah aktualisasi diri. Cara aktualisasi diri Deborah
yang lain adalah dengan merancang pernikahan Nicholas sesempurna mungkin.
Awalnya,
Naomi merasa senang dan tersanjung bisa besanan sama keluarganya Nicholas (of
course, karena dia mencintai Nicholas 100% saat itu). Tapi lama-kelamaan
dia sadar bagaimana wajah asli keluarga Nicholas, dan betapa Deborah sangat
suka mengontrol segalanya, termasuk mengontrol suami dan putranya. Dia selalu
menghina Heather (saudara Nicholas) yang kabur dari rumah dan benci sama istri
pertama Harold, bokapnya Nicholas. Dia selalu menyebut Nicholas sebagai putra
yang sangat baik dibandingkan Heather, karena Nicholas selalu berusaha bikin ortunya
senang. Singkat cerita, Nicholas itu Anak Mami, tapi levelnya masih nggak parah
karena di akhir, dia bisa stand up for himself dan berani melawan
tindakan ibunya yang disrespecting Naomi.
Jadi,
Deborah itu udah sering mengubah segala rencana pernikahan Naomi-Nicholas biar
sesuai kemauan dia, karena dia menganggap dirinya yang udah menikah dan merupakan
Orang Penting™ di Morris itu lebih tahu segalanya soal pesta pernikahan
terbaik. Naomi bilang dia mau kue pernikahan lemon cake, tapi Deborah
menggantinya dengan kue lain dengan berkata, “Oh, honey, lagian siapa
juga yang mau makan lemon cake?” padahal Naomi suka lemon cake.
Terus Naomi udah pilih gaun pernikahan yang dia suka, tapi Deborah menggantinya
dengan desain gaun pernikahan lain yang nggak Naomi suka, dan Deborah
beralasan, “Gaun pernikahan ini sempurna dan cocok dipakai sama wanita dari
keluarga Rose.”
Terus
pas Naomi mau protes ke Nicholas, Nicholas justru bilang semacam, “Ya udahlah
Naomi, ini kan cuma kue/bunga/gaun, ikutin aja apa kata ibuku biar cepat.”
Naomi
nggak berani melawan Deborah karena Deborah adalah ibu dari Nicholas, dan
Nicholas sendiri selalu belain ibunya, selalu berusaha menyenangkan hati
orangtua. Itu bikin Naomi nggak merasa punya suara untuk protes. Ntar dikiranya
ngeribetin. Padahal kan ini pernikahan dia sama Nicholas, tapi kenapa apa-apa
harus nurutin kemauan Deborah? Naomi mulai capek sejak itu. Apalagi karena Nicholas
kelihatan selalu mau menyenangkan hati ibunya, meski Nicholas sering
mengeluhkan sang ibu ke Naomi, meski Nicholas juga kelihatan muak meladeni
ibunya, tapi dia tetap meladeni, dan bahkan sering membelikan ibunya bunga mawar,
sedangkan Naomi nggak pernah dikasih bunga apa pun sejak mereka bertunangan.
Orang
tuh nggak bisa—atau sangat sulit—terus-menerus mencintai pasangan yang
senantiasa membuatnya merasa tidak dicintai dan tidak diprioritaskan. Naomi
menghadapi Nicholas—pria yang dia cintai dan dia pikir akan berjuang buat dia—yang
ternyata nggak belain dia di depan ibunya ketika ibunya bertindak semena-mena. Dan
hal yang Naomi hadapi itu berlangsung selama sembilan bulan. Berusaha tetap
mencintai pasangan yang nggak memerhatikan dan memprioritaskan kita selama berbulan-bulan
itu bukanlah waktu yang sebentar.
Dalam
perspektif Naomi, melihat bagaimana Nicholas nggak mungkin belain dia ketika Deborah
semena-mena, lalu menghadapi Nicholas yang sering mengeluhkan berbagai hal tapi
tetap berusaha menyenangkan hati semua orang, sedangkan Nicholas nggak pernah
mengeluh soal Naomi tapi nggak pernah lagi melakukan hal-hal yang membuat Naomi
merasa dicintai, itu lama-lama bikin rasa cinta dia kepada Nicholas perlahan
berkurang. Dia jadi mencintai Nicholas sebesar 40%.
Naomi
sudah menulis daftar berisi hal-hal yang membuat dia mencintai Nicholas. Daftar
itu disimpan di dokumen yang hanya bisa dibuka dengan kata sandi. Naomi mengingat-ingat
daftar tersebut setiap hari untuk tetap mengingat hal positif soal hubungan
mereka. Tapi karena Nicholas senantiasa melakukan hal yang membuat Naomi merasa
tidak dicintai, daftar tersebut lama-lama kehilangan sihirnya. Pada suatu
titik, hal-hal remeh yang bikin mood-nya turun bisa membuat rasa cinta
Naomi berkurang hingga 20% atau 5%.
Setelah
memasuki bab kelima, sebenarnya gue mau ketawa karena gue sadar betapa Naomi
dan Nicholas—terlepas dari seberapa menyakitkan dan seberapa besar konflik
mereka—itu masih sangat peduli terhadap satu sama lain. Dan dibanding beberapa
cerita soal masalah pasangan in-relationship yang pernah gue simak, masalah
antara Naomi dan Nicholas itu masih bisa diperbaiki BANGET. Gue bukan bilang
bahwa masalahnya mudah diperbaiki, bukan, justru cukup sulit diperbaiki, tapi
intinya bisa diperbaiki, walau memang butuh usaha keras. Masalah mereka
bisa diperbaiki, soalnya Naomi adalah Naomi dan Nicholas adalah Nicholas. Dalam
arti, Naomi dan Nicholas itu masih peduli terhadap satu sama lain, ekspektasi
mereka terhadap satu sama lain itu masih bisa dicapai, dan mereka (dalam
prosesnya) ada keinginan dan kemampuan untuk mencapai hal itu.
Orang
mungkin akan berkata bahwa masalah Naomi dan Nicholas bisa gampang selesai kalau
dari awal mereka mau berkomunikasi. Itu nggak salah, tapi melupakan satu aspek
penting dalam berkomunikasi dengan pasangan, yakni harus bersedia memperlihatkan
sisi rapuh mereka, sisi insecure yang takut
gagal/dihina/direndahkan/tidak diinginkan. Naomi itu bukan lulusan S1. Dia beberapa
kali ditanya kenapa nggak lanjut kuliah aja, dan Naomi nggak pernah menjawab
jujur. Bahwa sebenarnya, dia udah berkali-kali mendaftar dan ditolak. Tapi dia
nggak bisa menunjukkan kegagalannya berkali-kali ke orang lain karena takut
dicemooh dan dikasihani. Jadi dia menyimpan kegagalan-kegagalan itu untuk
dirinya sendiri aja, dan hanya menunjukkan apa saja usahanya ke orang lain
kalau dia udah berhasil.
Terus,
hal lain yang menurut gue mengejutkan, pas Naomi dan Nicholas berantem besar,
Naomi baru sadar bahwa itu adalah pertengkaran pertama dia sama Nicholas.
Selama hampir setahun pacaran itu mereka nggak pernah berantem. Soalnya selama
ini kalau mereka punya keluhan terhadap satu sama lain, atau punya keinginan terhadap
satu sama lain yang mereka pikir nggak bisa/nggak akan dikabulkan oleh orang
bersangkutan, semua mereka pendam aja. Makanya nggak pernah berantem.
Buku
ini berkisah tentang proses bagaimana Naomi dan Nicholas berproses untuk
beresin masalah relationship mereka, walau awalnya adalah dengan cara
membuat satu sama lain memiliki hidup yang kacau. But then, they see each
other at their lowest, at their worst, and they decided to stick with each
other until the end.
You
Deserve Each Other oleh Sarah Hogle adalah novel romansa terbaik yang sejauh ini
pernah gue baca.
Komentar
Posting Komentar