Judul Seri:
The Grisha Trilogy
Buku: Shadow
and Bone (#1), Siege and Storm (#2), Ruin and Rising (#3)
Status:
Completed
Bahasa:
Inggris (sudah ada terjemahan Bahasa Indonesia, diterbitkan Pop Ice Cube)
Genre: Young
Adult Fantasy
Rating: 8/10
BLURB
Surrounded by enemies, the once-great nation of Ravka has been torn in two by
the Shadow Fold, a swath of near impenetrable darkness crawling with monsters
who feast on human flesh. Now its fate may rest on the shoulders of one lonely
refugee.
Alina Starkov has never been good at anything. But when her regiment is
attacked on the Fold and her best friend is brutally injured, Alina reveals a
dormant power that saves his life—a power that could be the key to setting her
war-ravaged country free. Wrenched from everything she knows, Alina is whisked
away to the royal court to be trained as a member of the Grisha, the magical
elite led by the mysterious Darkling.
Yet nothing in this lavish world is what it seems. With darkness looming and an
entire kingdom depending on her untamed power, Alina will have to confront the
secrets of the Grisha . . . and the secrets of her heart.
REVIEW
"What is infinite? The universe and the greed of men."
Pertama
tertarik sama buku ini gara-gara penulis favorit gue di Wattpad, Ellechanel,
pernah rekomen buku ini di rantbook dia. Trus, berhubung gue suka semua cerita
buatan Elle, gue ada feeling keknya gue bakal suka sama The Grisha Trilogy ini.
Soalnya si Elle kayak tergila-gila gitu sama TGT. Karena penulis favorit gue
tergila-gila sama suatu buku, otomatis gue penasaran. Yaudah, trus gue coba
baca kan. Gue udah sampe buku tiga dan... ANJIR.
Anjir,
serius, gue udah lama banget nggak book hangover. Ini cerita yang selama
ini gue cari. Gue mau baca novel yang kedua tokoh utamanya (cewek dan cowok)
itu rival. Bukan rival kayak cowok-cewek musuhan di sekolah yang dialognya,"Gue
benci banget sama lo!!!" LOL, melainkan rivalitas yang kayak Naruto dan
Sasuke. Jadi, satu-satunya yang bisa menyamai kekuatan The Darkling ya cuma
Alina, dan sebaliknya. Kekuatan mereka itu kontras, berlawanan, saling
melengkapi. Dan yang gue suka, mereka dibikin konsisten jadi rival sampai
tamat. Nggak berakhir jadi sepasang kekasih.
The
stark difference between this story and other YA fantasy stories is the depth
of the psychological aspect, spesifiknya di bagian Alina yang awalnya naif,
tapi kemudian dia mulai haus kekuatan setelah semakin kuat menjadi Grisha (dan
bagian ‘greed of power’ ini disisipkan dengan halus). Jadi sepanjang cerita,
topik yang gue tangkep dan bikin gue tertarik itu karena gue bisa lihat how
human greed can create a monster.
Hubungan
Alina-The Darkling buat gue juga menarik banget sih. Jadi, gue antara mau nge-ship,
tapi nggak mau nge-ship juga (The Darkling is way too abusive
and manipulative LOL). Soalnya, mereka tuh cocok, tapi destruktif. Kekuatan
mereka diciptakan untuk saling melengkapi sekaligus saling melenyapkan (kegelapan
versus cahaya), dan prinsip mereka juga bertentangan. Tapi di saat yang sama,
orang yang paling mengerti Alina itu adalah The Darkling, sedangkan yang paling
mengerti The Darkling itu cuma Alina. How they feel about power hunger,
struggling with greed, feeling 'different' from the others, feeling isolated,
feeling lonely, and feeling like they can't let their real emotions out,
semuanya itu udah mereka rasain, jadi mereka sama-sama mengerti satu sama lain.
Tapi walau begitu, prinsip mereka udah bertentangan sedari awal, makanya mereka
perang.
So,
here's the description of the character:
1. ALINA STARKOV
"You
are stronger, but I am an apt pupil."
Dibesarkan
sebagai anak yatim piatu, Alina Starkov akhirnya hidup sebagai pembuat peta
yang bekerja untuk The First Army negara Ravka. Ravka adalah negara yang memiliki
dua jenis pasukan, yakni The First Army yang berisi manusia biasa, serta The
Second Army yang berisi para Grisha. Grisha adalah orang yang bisa memanipulasi
suatu elemen tertentu. Pengelompokan Grisha terbagi menjadi tiga ordo utama:
Corporalki (yang bisa memanipulasi tubuh), Etherealki (Summoners, yang bisa
memanggil/memanipulasi elemen angin/air/api/cahaya/kegelapan), Materialki
(Fabrikator yang bisa memanipulasi alkimia/bahan non-organik).
Ravka
itu terbagi menjadi dua karena ada Shadow Fold, tempat kegelapan abadi yang
dihuni oleh mahkluk pembunuh manusia, semacam potongan area yang terbentuk
karena dulu pernah ada Grisha yang melakukan ‘abomination’ (jujur gue
nggak tahu padanan bahasa Indonesia yang dipakai apa, karena dulu baca TGT
versi Inggris, tahun 2015 belum ada versi terjemahan bahasa Indonesia). Intinya
Shadow Fold ini berisi mahkluk-mahkluk bernama Volcra yang bunuhin orang-orang di
dalam sana. Berhubung lebih jelas kalau lo lihat visualnya, lo nonton Shadow
and Bone aja ya di Netflix. Memang banyak perbedaan di versi buku dengan versi Netflix,
tapi tetap menyenangkan untuk disimak, dan kasih pemahaman tentang dunia Grishaverse
yang lebih cepat.
Pas Alina masuk ke Shadow Fold, Alina mengeluarkan kekuatan yang bisa memanggil cahaya. The Darkling, pemimpin dari The Second Army negara Ravka, mengecek Alina untuk mengetes kebenaran apakah Alina ini Grisha atau bukan. Dan ternyata, selama ini dia adalah Grisha yang tak terdeteksi. Sebagai Sun Summoner pertama yang selama ini dicari-cari oleh The Darkling, Alina harus ikut The Second Army dan berlatih sebagai Grisha di Little Palace (Ravka punya dua istana di ibu kota mereka, yakni Grand Palace yang berisi anggota kerajaan, sama Little Palace yang menaungi para Grisha), karena kekuatan Alina yang bisa memanggil cahaya adalah harapan untuk bisa memusnahkan Shadow Fold. Alina jadi harus terpisah dengan Malyen Oretsev, teman masa kecilnya yang tinggal di rumah yatim piatu yang sama dengan Alina.
Alina
Starkov has a character development that intrigued me. Like, she started
off as your typical YA Fantasy heroine (think herself isn't pretty enough to attract
the male main character (The Darkling LOL), she just wanted to live safely but
she ended up having to save the world). But, as time goes by, she grows up. And
I really, really love her character development through time. Apalagi yang
dari buku dua ke buku tiga, karena di dua buku inilah pergulatan Alina yang
mulai haus kekuatan, dan gue suka sama pergulatan Alina melawan kerakusannya
sendiri. Apalagi pas dia makin kuat dan mulai paham cara kerja The Darkling
yang manipulatif. Gue seneng Alina bisa ngelawan dan mengakali The Darkling, di
buku berasa lebih greget.
[tambahan:
pas tahun 2021 dan 2023, gue udah nonton series Netflix Shadow and Bone, tapi
emang udah muak sama fans Darklina, jadinya gue nggak ngerasain chemistry
apa-apa antara Darkling and Alina di seris Netflix-nya. Lagian udah ada
Kaz-Inej di Six of Crows sama Zoya-Nikolai yang JAUHHH lebih well written
untuk dinamika romansa yang setara dan GREGET].
Trus
di buku ketiga, secara mental Alina emang udah lebih matang. Mungkin karena
berkali-kali dimanipulasi sama The Darkling kali ya, jadinya dia makin paham
isi otaknya The Darkling better than anyone else. The way she turned the
table on The Darkling is so priceless. I love her character development so
much. Even the Apparat said, "You are not like what I expected. The lesser
saint, but I guess that makes you a better queen."
Untuk
pembaca yang udah dewasa, karakter Alina mungkin bikin males karena di buku
pertama, Alina itu kayak tokoh utama cewek tipikal di novel YA fantasy, dia
terlalu naif. Tapi karena gue baca TGT pas gue masih remaja, gue ngerasa
perkembangan karakter Alina itu bagus. Her character development is worth to
read. Jadi, gue bertahan baca The Grisha Trilogy itu karena perkembangan
tokoh Alina, bukan karena The Darkling LOL.
2. THE DARKLING
"Fine,
make me your villain."
Hanya
dipanggil dengan gelar yang diberikan kepadanya, The Darkling hidup sebagai
pemimpin dari The Second Army negara Ravka. Dengan memuaskan keinginan The
Darkling, para Grisha bisa ditempatkan pada posisi-posisi tinggi di dalam
Second Army maupun di dalam kerajaan. Perlakuan ini berbeda dengan perlakuan
negara lain yang hanya akan menjual Grisha sebagai budak, atau membunuh mereka
karena dianggap penyihir/dukun. Tujuan The Second Army selama ini adalah untuk
menghancurkan The Shadow Fold yang berisi banyak mahkluk pembunuh manusia.
Tujuan
The Darkling sebenarnya adalah menciptakan dunia di mana Grisha aman, tanpa
harus tunduk kepada anggota kerajaan yang hanya peduli foya-foya dan tak peduli
sama rakyat. Sekilas, tujuan The Darkling sungguh mulia. But as the story
goes, it turns out he is the real villain all this time.
Gue
ingat pas dulu gue baca, susah buat nggak tertarik sama The Darkling sebagai villain.
He is really intriguing. Not just because he is handsome and evil (those
traits alone is already enough to make female readers like him), but also because
he has a twisted, classy mind with a really manipulative charm of his own.
Mungkin juga karena gaya menulis Leigh Bardugo pas menggambarkan The Darkling
juga membuai kali, ya? Tapi setelah baca Six of Crows, gue ngerasa tulisannya Bardugo
JAUH lebih bagus. Dan untuk masalah villain, bertahun-tahun setelah gue
baca TGT, gue jelas menemukan villain lain yang lebih menarik disimak
daripada The Darkling, seperti Silco dari Arcane series (Netflix) dan Su Daji
dari The Poppy War.
Jadi...
sebenernya The Darkling itu kampret HAHA. Tapi walau The Darkling itu karakter
yang membuai, gue masuk #TeamAlina. Pada dasarnya gue selalu pengen rooting
for the character’s development. Karena gue itulah gue suka sama
tokoh-tokoh yang punya character development kayak Alina Starkov di The
Grisha Trilogy. Dan meskipun chemistry Alina dan The Darkling di buku
itu dapet banget, hubungan antara Alina dan The Darkling buat gue ya sebatas
rival. I'm not gonna ship them to be a lover.
The
Darkling memang kayak ngerti Alina luar-dalam, tapi The Darkling itu karakter
yang abusif dan manipulatif banget. Gue sih nggak mau Alina berakhir sama The
Darkling sebagai sepasang kekasih, mau se-charming apa pun The Darkling
ya tetep aja, nggak menegasikan sisi abusif dia. Gue pun ilfeel banget pas tahu
apa yang dia lakukan terhadap Genya.
Genya
itu Grisha yang cantik, dan pas dia masih usia remaja awal, The Darkling diam-diam
‘mempersembahkan’ Genya untuk raja, dan Genya mau-mau aja karena dia pikir ini
udah jadi kewajibannya sebagai prajurit The Darkling, mana saat itu Genya masih
muda banget jadi gampang dibikin menurut. Dan sejak itu si Genya jadi harus
memuaskan sang raja dengan tubuhnya, so The Darkling is basically a child
trafficker.
*SPOILER
ENDING*
Alina
berakhir sama teman masa kecilnya, Malyen Oretsev. Dan akhir kisah ini bikin
banyak pembaca marah. Soalnya, mereka berharap Alina memilih untuk jadi someone
greater, nggak ‘cuma’ berakhir membuat dirinya mati di mata rakyat, terus
menjalani hidup biasa, menjadi pengurus panti asuhan bersama Mal. Alina pernah
punya kesempatan untuk jadi power couple bersama The Darkling, atau jadi ratu
yang memimpin Ravka di sisi Pangeran Nikolai Lantsov. Alina menolak itu semua,
menukarnya untuk hidup biasa bersama Malyen. Jadi gue lihat, pembaca TGT sih
pada marah karena Alina dibuat menolak kesempatan untuk menjadi ‘someone big
and great’ demi cowok biasa.
Kalau
dari apa yang gue tangkap, meski gue mengakui perkembangan karakter Alina itu
oke, gue nggak merasa Alina punya kapabilitas terbaik untuk menjadi ratu atau
untuk memimpin The Second Army. Iya, dia memang punya niat baik, dan seiring
berjalannya waktu, dia pasti akan bisa beradaptasi dengan posisi tinggi. Mungkin
lebih tepatnya, Alina bisa jadi ratu yang baik, atau jadi memimpin The Second
Army dengan baik. Tapi … Alina itu MUAK sama politik. Di buku kedua dan ketiga,
gue menangkap bahwa Alina itu sebenarnya muak karena merasa digunakan sebagai
alat politik. Orang-orang menghargai dia hanya sebagai Sun Summoner, Nikolai
ingin menikahi dia untuk kepentingan politik, The Darkling menginginkan dia
karena kekuatan Sun Summoning, rakyat memuja dia atas kekuatan Sun Summoning dia
juga. Jika dia nggak pernah punya
kekuatan ini, apa orang-orang akan tetap menginginkannya? Yang sedari awal
selalu ada untuk dia, sebelum dia mengetahui dirinya adalah Sun Summoner, itu
adalah Malyen. Tapi Malyen takut dengan Alina yang semakin kuat, karena Alina
terasa makin jauh dan makin haus akan kekuatan. Masalahnya, Grisha yang makin
kuat itu sampai ke level Sankta itu akan selalu menginginkan kekuatan lebih,
rasa hausnya senantiasa ada. Dan kalau nggak berhati-hati, bakal berakhir kayak
The Darkling. Alina terasa nggak kuat menahan itu semua. Makanya, buat gue
masuk akal dia memilih untuk hidup biasa.
Di
sisi lain, sepertinya ketidakpuasan pembaca ini dijadikan pertimbangan sama showrunner
Shadow and Bone. Karena di Season 2, Alina dibuat tetap tinggal di istana untuk
membantu Ravka sebagai Triumvirate (bersama dua Grisha lain), sedangkan Mal
akan berpetualang sebagai privateer bersama Inej untuk memburu kapal penjual
budak. Jadi di versi Netflix, baik Alina dan Mal akan memiliki petualangan
sendiri yang terpisah dari satu sama lain. Akan ada waktu sendiri bagi mereka
untuk mencari tahu apa yang benar-benar mereka inginkan.
Gue
suka sama akhir kisah untuk Alina dan Mal di Season 2, karena gue sendiri juga
mau tahu apa yang akan mereka lakukan kalau nggak bersama satu sama lain (dari
kecil kan bareng-bareng mulu mereka). Jadi ada ruang untuk tumbuh sendiri,
nggak selalu terikat ke satu sama lain. Tapi, akhir untuk seri buku TGT pun gue
juga bisa terima. Alina ingin hidup biasa karena dia capek sama politik dan
takut makin serakah akan kekuatan Grisha-nya. Menjadi Sankta yang dipuja rakyat
adalah satu hal, tapi memimpin negara adalah hal yang sepenuhnya lain.
Keyakinan
gue tentang Alina nggak cocok jadi ratu jadi makin terasa tervalidasi setelah
gue baca King of Scars (dwilogi Nikolai, berlatar di Ravka, dua tahun setelah
TGT berakhir). King of Scars itu novel Grishaverse yang lebih fokus ke politik,
dan setelah melihat Zoya sama Nikolai di situ, gue menganggap Zoya itu lebih
mampu mengelola rasa haus kekuatan yang dia miliki, dan juga lebih mampu
memimpin The Second Army sebagai jenderal.
TENTANG
CINTA SEGITIGANYA
Alina
ends up with Mal, not with Nikolai the Prince Perfect or with The Darkling. Dan, gue
berasa relate sama kehidupan nyata.
Kalau
lo baca teenfiction (bukan cuma teenfic Indo, melainkan juga teenfic
luar), lo akan nemuin banyak banget cerita yang intinya: the good girl ends
up with the bad boy as her lover. Jadi, gue bisa memahami pembaca muda yang
baca TGT dan benci sama Mal, lebih nge-ship Alina sama The Darkling.
Karena... The Darkling itu charming dan mereka mengharapkan The Darkling
tobat karena Alina, atau Alina diharapkan untuk go to the dark side biar
bisa memimpin Ravka bersama Darkling (secara personal, gue nggak sreg sih sama
tokoh cewek dibuat jadi “go to the dark side” demi cowok, dan plot di
mana tokoh yang jahatnya kayak Darkling dibuat tobat demi cewek yang dia cinta
juga malesin, karena merusak penokohan).
Terus
kalau memang menolak The Darkling (because of the obvious reason),
pembaca heran kenapa Alina nggak dibuat berakhir sama Nikolai? Nikolai bukan
sekadar prince charming berkuda putih. Nikolai itu pangeran yang strategis,
rada gila, suka tantangan, tahu bagaimana harus bersikap untuk orang-orang yang
berbeda, dan dia beneran peduli sama rakyatnya. Mal dibanding The Darkling atau
Nikolai? Wew, nggak ada apa-apanya. Gue paham kenapa banyak cewek remaja yang
benci sama tokoh Mal. Alasannya itu simpel: Mal ngebosenin. Dan salah satu
faktor yang membuat Mal membosankan adalah karena Mal adalah tokoh cowok yang
biasa-biasa aja, nggak ada apa-apanya dibanding The Darkling atau Nikolai. Trus
Mal juga nggak bisa ngertiin Alina sebagaimana The Darkling memahami Alina.
Tapi,
jujur gue seneng Leigh Bardugo justru bikin Mal sama Alina, alih-alih bikin
Nikolai sama Alina. Because ... Nikolai is manipulative in a way, but that
is understandable because he is a politician. Alina udah muak dikelilingi
orang-orang manipulatif yang mau memanfaatkan kekuatan Alina doang, meskipun
Alina tahu Nikolai baik dan memang mau membangun Ravka. Sementara Mal, ya ...
dia cowok yang b aja. Dia bukan siapa-siapa dibandingkan Alina yang emang
seorang Grisha sekaligus Sankta. Alina dipuja-puja seantero negeri, dihormati
dan dikagumi karena kekuatan Sun Summoning-nya. Sementara Mal? He's just an
ordinary boy. Yes, he is the best at tracking something. But he is neither a
prince nor a Grisha.
Tokoh
Mal nggak intriguing kayak The Darkling atau Nikolai. Dia b aja. Tapi,
dibandingin dua lelaki tadi, he's always there for Alina. When he said,
"I'm not fighting for any nation. You are my nation, Alina. You are my
flags. I fight for you." itu gue kayak, "Whoa, you'd better
don't dump him, Alina."
Inilah
beberapa hal yang memang belum bisa dipahami sama dedek-dedek yang masih
remaja. Love is not just about magical moments between you and him. Mal has no
magical moment with Alina like The Darkling has. Mal juga nggak bisa mengerti
Alina sebagaimana The Darkling paham Alina. But at least, he's ALWAYS trying,
walaupun susah. Dan kalaupun dia nggak bisa memahami Alina, he's...
always be there for her.
Yak,
sekian resensi gue buat TGT. Meskipun dari segi kepenulisan, Six of Crows jauh
lebih bagus, gue nggak bisa melupakan TGT yang bikin gue pertama suka sama
Leigh Bardugo. Tema di TGT tentang kekuasaan dan keserakahan manusia itu ditulis
dengan hasil yang memuaskan untuk gue.
Komentar
Posting Komentar